WISATA DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG
Temanggung merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang juga menjadi penghasilan tembakau terbesar di Indonesia.Saat berada di kota temanggung kita harus keliling ke tempat wisata yang ada di Kota Temanggung, ternyata Kota Temanggung selain memiliki hasil perkebunan tersebut temanggung juga memiliki tempat wisata yang begitu indah.Berikut ini daftar tempat wisata di Temanggung yang populer dan bisa di kunjungi:
1.Wisata Alam Posong
Jika berakhir di sekitar Magelang atau Wonosobo jangan lupa mampir ke objek wisata baru di Kabupaten Temanggung. Ada wisata alam posong dengan pemandangan yang indah di kaki Gunung Sindoro.Yuk kita ke sana!
Bagi para treveleran pasti sudah tak asing dengan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.Gunung kembar yang terletak di Kabupaten Temanggung,Jawa Tengah ini memiliki ketinggian masing-masing 3.371 Mdpl dan 3.150 Mdpl.Siapa yang menyangka, di balik kegagahan yang tersembunyi keindahan lain di Temanggung.
Jika Dieng di Wonosobo memiliki wisata Bukit Sikunir, Magelang memiliki Gunung Andong, maka Temanggung memiliki tujuan wisata menarik yaitu Posong. Posong merupakan kawasan wisata baru di Kabupaten Temanggung, letaknya di kaki Gunung Sindoro, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Tiketnya cukup murah, dengan membayar sebesar Rp 4.000, anda sudah bisa masuk ke area Posong. Jam buka wisata ini dari pukul 04.00 hingga 17.00 WIB.
Jika Anda melakukan perjalanan dari arah Semarang, bisa mengambil jalur Pantura Semarang-Yogya melewati Bawen, Ambarawa dan terakhir berada di perempatan Secang. Setelah itu, beloklah ke kanan dan ikuti saja terus jalan hingga alun-alun Kota Temanggung. Jika dari arah Yogyakarta, ambil jalur Pantura Yogya-Semarang, melewati Magelang dan terakhir perempatan Secang, belok kiri, ikuti jalan hingga bertemu alun-alun Kota Temanggung.
Jika sudah berada di Alun-alun Temanggung, ambil arah ke Wonosobo melewati Parakan. Bila sudah ada di Pasar Parakan, lurus saja dengan jalan yang menanjak hingga Kecamatan Kledung. Hati-hati melewati jalur ini, berkelok-kelok dan rawan terjadi kecelakaan.
Tetap konsentrasi untuk menemukan gapura kecil bertuliskan Posong di kanan jalan. Gapura ini dapat ditemui setelah melewati jembatan 1 (Jembatan Kembar) kemudian ada 1 jembatan lagi dan berbelok ke kanan Pas di tanjakan, gapura bertuliskan Posong terlihat di kanan jalan.
Apa saja yang ada di Posong? Meskipun kawasan wisata baru, namun jangan disepelekan persembahan alamnya. Posong memiliki golden sunrise yang sangat menakjubkan. Seperti yang saya katakan, bila Dieng memiliki Bukit Sikunir dan Magelang memiliki Gunung Andong, Temanggung memiliki Posong.
Wisata alam Posong terletak persis di kaki Gunung Sindoro. Saya sarankan berhati-hati saat mulai masuk dari loket pembayaran. Jalur yang terjal, berkontur batu dan sempit, membuat kita harus ekstra hati-hati. Tapi jangan khawatir, dari awal masuk, anda telah mendapati pemandangan alam yang sangat cantik. Selain perkebunan penduduk, Anda dapat melihat keindahan lekukan-lekukan tubuh Bumi ini.
Memerlukan waktu sekitar 1 jam dari gerbang tiket hingga lokasi akhir, spot utama Posong. Jika pagi hari mampir ke sini, pastinya mendapatkan sunrise. Namun perlu diingat, usahakan pukul 04.00 WIB pagi sudah start dari gerbang tiket dan kurang lebih pukul 05.00 WIB sudah berada di spot utama. Bersabarlah menunggu Sang Surya keluar dari persembunyiannya dengan duduk santai dan menikmati teh atau kopi panas di gazebo-gazebo yang telah disediakan.
Memang ada warung, namun buka kurang lebih pukul 07.00 WIB pagi. Maka dari itu ada baiknya membawa termos berisi air panas dan cangkir kopi sendiri. Ingat juga membawa jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, celana training, kaos kaki. Suhu di Posong sudah lumayan dingin.
Pukul 05.45 WIB pandanglah mata ke arah Gunung Sumbing, perlahan-lahan mentari pagi mengintip dari balik Gunung Sumbing. Perlahan semu bayang Merbabu, Merapi, Telomoyo, Muria, Ungaran mulai terlihat. Bagi yang menyukai fotografi, siapkan kamera SLR/DSLR, tripod dan atur pengaturan secara manual agar mendapat gambar yang sempurna.
Pukul 06.00 WIB rasakan dan nikmati hangatnya Golden Sunrise! Abadikan momen terbaik dari Posong. Bila beruntung Anda mendapatkan samudera awan dan siangnya mendapatkan pemandangan bersih, bebas dari awan. Pemandangan puncak Merbabu, Merapi, Telomoyo, Ungaran, Muria, Sumbing dan Sindoro. 7 Puncak sekaligus bisa kita lihat dari atas sini.
Posong juga membuka tempat berkemah, wisatawan bisa menghubungi pihak pengelola setempat. Bukan hanya pagi dan Golden Sunrise, Posong mempersembahkan keindahannya. Aaat malam hari milyaran bintang berada di atas persis kepala kita atau yang biasa disebut dengan Milky Way.
Penasaran? Langsung saja meluncur ke sini. Ini bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga, teman, pacar. Dijamin tak mengecewakan. Namun perlu diingat lagi, untuk bisa mendapat view yang sempurna, berkunjunglah saat musim kemarau. Bila musim hujan pasti Anda hanya mendapat kabut.
Jangan tinggalkan sampah dan apa pun selain jejak, jangan ambil apapun selain foto, jangan bunuh apapun selain waktu. Nikmati alam sangat dibolehkan, namun bertanggung jawab agar anak cucu juga kita bisa menikmati.

Bagi para treveleran pasti sudah tak asing dengan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.Gunung kembar yang terletak di Kabupaten Temanggung,Jawa Tengah ini memiliki ketinggian masing-masing 3.371 Mdpl dan 3.150 Mdpl.Siapa yang menyangka, di balik kegagahan yang tersembunyi keindahan lain di Temanggung.
Jika Dieng di Wonosobo memiliki wisata Bukit Sikunir, Magelang memiliki Gunung Andong, maka Temanggung memiliki tujuan wisata menarik yaitu Posong. Posong merupakan kawasan wisata baru di Kabupaten Temanggung, letaknya di kaki Gunung Sindoro, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Tiketnya cukup murah, dengan membayar sebesar Rp 4.000, anda sudah bisa masuk ke area Posong. Jam buka wisata ini dari pukul 04.00 hingga 17.00 WIB.
Jika Anda melakukan perjalanan dari arah Semarang, bisa mengambil jalur Pantura Semarang-Yogya melewati Bawen, Ambarawa dan terakhir berada di perempatan Secang. Setelah itu, beloklah ke kanan dan ikuti saja terus jalan hingga alun-alun Kota Temanggung. Jika dari arah Yogyakarta, ambil jalur Pantura Yogya-Semarang, melewati Magelang dan terakhir perempatan Secang, belok kiri, ikuti jalan hingga bertemu alun-alun Kota Temanggung.
Jika sudah berada di Alun-alun Temanggung, ambil arah ke Wonosobo melewati Parakan. Bila sudah ada di Pasar Parakan, lurus saja dengan jalan yang menanjak hingga Kecamatan Kledung. Hati-hati melewati jalur ini, berkelok-kelok dan rawan terjadi kecelakaan.
Tetap konsentrasi untuk menemukan gapura kecil bertuliskan Posong di kanan jalan. Gapura ini dapat ditemui setelah melewati jembatan 1 (Jembatan Kembar) kemudian ada 1 jembatan lagi dan berbelok ke kanan Pas di tanjakan, gapura bertuliskan Posong terlihat di kanan jalan.
Apa saja yang ada di Posong? Meskipun kawasan wisata baru, namun jangan disepelekan persembahan alamnya. Posong memiliki golden sunrise yang sangat menakjubkan. Seperti yang saya katakan, bila Dieng memiliki Bukit Sikunir dan Magelang memiliki Gunung Andong, Temanggung memiliki Posong.
Wisata alam Posong terletak persis di kaki Gunung Sindoro. Saya sarankan berhati-hati saat mulai masuk dari loket pembayaran. Jalur yang terjal, berkontur batu dan sempit, membuat kita harus ekstra hati-hati. Tapi jangan khawatir, dari awal masuk, anda telah mendapati pemandangan alam yang sangat cantik. Selain perkebunan penduduk, Anda dapat melihat keindahan lekukan-lekukan tubuh Bumi ini.
Memerlukan waktu sekitar 1 jam dari gerbang tiket hingga lokasi akhir, spot utama Posong. Jika pagi hari mampir ke sini, pastinya mendapatkan sunrise. Namun perlu diingat, usahakan pukul 04.00 WIB pagi sudah start dari gerbang tiket dan kurang lebih pukul 05.00 WIB sudah berada di spot utama. Bersabarlah menunggu Sang Surya keluar dari persembunyiannya dengan duduk santai dan menikmati teh atau kopi panas di gazebo-gazebo yang telah disediakan.
Memang ada warung, namun buka kurang lebih pukul 07.00 WIB pagi. Maka dari itu ada baiknya membawa termos berisi air panas dan cangkir kopi sendiri. Ingat juga membawa jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, celana training, kaos kaki. Suhu di Posong sudah lumayan dingin.
Pukul 05.45 WIB pandanglah mata ke arah Gunung Sumbing, perlahan-lahan mentari pagi mengintip dari balik Gunung Sumbing. Perlahan semu bayang Merbabu, Merapi, Telomoyo, Muria, Ungaran mulai terlihat. Bagi yang menyukai fotografi, siapkan kamera SLR/DSLR, tripod dan atur pengaturan secara manual agar mendapat gambar yang sempurna.
Pukul 06.00 WIB rasakan dan nikmati hangatnya Golden Sunrise! Abadikan momen terbaik dari Posong. Bila beruntung Anda mendapatkan samudera awan dan siangnya mendapatkan pemandangan bersih, bebas dari awan. Pemandangan puncak Merbabu, Merapi, Telomoyo, Ungaran, Muria, Sumbing dan Sindoro. 7 Puncak sekaligus bisa kita lihat dari atas sini.
Posong juga membuka tempat berkemah, wisatawan bisa menghubungi pihak pengelola setempat. Bukan hanya pagi dan Golden Sunrise, Posong mempersembahkan keindahannya. Aaat malam hari milyaran bintang berada di atas persis kepala kita atau yang biasa disebut dengan Milky Way.
Penasaran? Langsung saja meluncur ke sini. Ini bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga, teman, pacar. Dijamin tak mengecewakan. Namun perlu diingat lagi, untuk bisa mendapat view yang sempurna, berkunjunglah saat musim kemarau. Bila musim hujan pasti Anda hanya mendapat kabut.
Jangan tinggalkan sampah dan apa pun selain jejak, jangan ambil apapun selain foto, jangan bunuh apapun selain waktu. Nikmati alam sangat dibolehkan, namun bertanggung jawab agar anak cucu juga kita bisa menikmati.
Lokasi wisata alam posong ini berada di daerah Kledung kabupaten temangung.
2.Embung Kledung
Salah satu wisata terbaru di temanggung yang patut anda kunjungi adalah embung kledung. Wisata alam embung kledung ini mempunyai panorama alam yang luar biasa indahnya.
Candi Pringapus adalah candi di desa Pringapus, Ngadirejo, Temanggung 22 Km arah barat laut ibu kota kabupaten Temanggung. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi Pringapus dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932. Candi ini merupakan replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan antefiks dan relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus merupakan candi yang menggunakan tataletak Jawa Tengah. Pola yang terlihat adalah adanya candi induk yang dihadap oleh candi perwara. Dalam hal Candi Pringapus ini, candi yang telah direkonstruksi (menghadap ke timur) adalah candi perwara, yang di dalamnya terdapat arca nandi. Sementara itu, di sekitaar candi terdapat banyak batu bagian dari bangunan-bangunan lain di kompleks candi ini. Candi Pringapus bersifat Hindu sekte Siwaistis. Hal ini terlihat dari adanya arca-arca bersifat Hindu yang erat kaitannya dengan Dewa Siwa. Pada bagian lain terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Durga merupakan salah satu perwujudan Uma sebagai dewi cantik dengan berbagai macam senjata anugerah dewa. Sebagai Durga, Uma menurut legenda berhasil mengalahkan raksasa sakti berwujud kerbau yang mengganggu para Brahmana. Di kompleks ini juga terdapat yoni yaitu salah satu perwujudan Uma (istri Siwa) yang berfungsi sebagai alas arca Siwa atau perwujudannya (biasanya berupa lingga). Persatuan lingga dan yoni merupakan simbol penciptaan alam semesta sekaligus simbol kesuburan. Sebagai saksi kebesaran sejarah masa silam, hal lain yang menarik dari Candi Pringapus adalah hiasaN Kala berdagu seperti umumnya Kala tipe Jawa Timur. Candi Pringapus pernah dipugar oleh Dinas Purbakala pada tahun 1930. Candi ini dibangun dengan bahan dari batu andesit dengan luas area sekitar 29,68m2. Candi Pringapus dihubungkan dengan Prasasti Argapura yang berangka tahun 852 M. Angka tahun yang tertera fondasi candi dan diduga sebagai tahun terselesaikannya pembangunan candi adalah tahun 772 Saka ( = 850 M). Menilik angka tahunnya, kemungkinan candi ini dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Pintu candi dihiasi dengan kalamakara di atas ambangnya. Tangga yang dibuat untuk mencapai pintu dibuat tanpa pipi tangga. Atap candi berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil, mirip dengan atap Candi Kidal di Jawa Timur. Keindahan Candi Priangapus terletak pada ornamen pahatan yang sangat halus dan indah yang menunjukkan bahwa arsiteknya memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bidang-bidang kosong diisi dengan pahatan bunga teratai dan sulur-suluran. Dinding di kanan kiri pintu dihiasi panil pahatan sepasang dewa-dewi dengan hiasan daun-daun yang distilir di atasanya. Dalam candi tersebut terdapat arca lembu dalam posisi duduk. Di sebelah barat bangunan candi, di tepi 'sendang' (danau kecil) terdapat sebuah lingga dan arca sapi. Konon, arca sapi ini merupakan penjaga ketersediaan air sendang, karena salah satu keunikan sendang tersebut adalah airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau berkepanjangan. CANDI LIYANGAN Candi Liyangan adalah situs purbakala berupa candi dan kawasan permukiman di lereng timur Gunung SIndoro, tepatnya di permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs ini baru ditemukan pada tahun 2008. Penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang. Penelitian dan penggalian lebih lanjut dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2010 dan 2011 menyimpulkan bahwa situs tersebut bukan merupakan candi besar tetapi sebuah perdusunan Mataram Kuno. Berdasar gambaran hasil survei penjajakan Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks; indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, sekaligus situs pertanian. Pada libur, candi ini banyak dikunjungi anak sekolah, turis domestik dan juga mancanegara seperti Amerika, Belanda, dan Belgia. Saat berkunjung ke situs liyangan di Ngadirejo Temanggung yang sedang dieskavasi Balar yogya, Tim Geologi (tim terpadu riset mandiri) sempat mengambil sample untuk kepentingan carbon dating. Sample itu dikirim bersamaan dengan sample beberapa lapisan di gunung padang ke Laboratorium Miami Florida. Hasilnya Umur batang pohon yang terbakar saat ditemukan tim di Situs Liangan usianya 690 Masehi. Jauh lebih muda dari lapisan yang pernah di carbon dating oleh Balar yogya sekitar tahun 975 M. Mungkin saja masih bisa ditemukan di lapisan bawahnya yang berumur lebih tua lagi, yang artinya ada bangunan situs lain yang lebih tua dari Borobudur. Kita tunggu perkembangan dari eskavasi Balar yogya. Berikut tentang situs liyangan Dari beberapa situs seperti Liyangan (Temanggung), Batu Jaya (Karawang), Trowulan (Mojokerto), dll yang ditemukan dalam keadaan terkubur, makin meyakinkan kita bahwa banyaK pengetahuan kebencanaan dan peradaban kita yang tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga mengikis keinginan kita untuk mengetahuinya. Artefak bukan semata art dan komoditi pariwisata; Lebih dari itu kita bicara visi bangsa ke Depan. Tim Katastropik purba telah lakukan pra-survey ke situs liyangan. Ada yang menarik: di situs yang sdh di eskavasi sebagian itu, di dinding yang paling atas bangunan ternyata mirip bangunan romawi. Kelihatannya kalibrasi geolistrik, georadar dengan hasil situs liyangan temanggung bisa menjadi opsi. Ada hal yang sangat mendasar di situs liyangan: Materialnya berbeda bukan batu bata seperti batu jaya dan trowulan, mirip benteng Romawi. Tahun 2008 , tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari Kecamatan Ngadirejo ditemukan situs Liyangan ini. Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro Yang cukup spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman. Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno. Secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut adalah situs permukiman, situs ritual, dan situs pertanian.Kompleksitas karakter tersebut membawa pada pemikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas perdusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa mengingat temuan ini satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah masa Mataram Kuno. Luasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno. Mengingat sebagian situs terkubur lahar, masih sangat dimungkinkan luasan situs lebih dari hasil survei. Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu. Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah. Sebagai upaya penelitian lebih lanjut terhadap situs di kawasan penambangan pasir tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah akan melakukan penggalian situs. Kepala BP3 Jawa Tengah Trihatmaji mengatakan, tim BP3 akan melakukan penggalian situs pada awal bulan Mei 2010 sebagai upaya penyelamatan benda bersejarah tersebut. Dengan adanya penggalian tersebut maka setelah tanah terpotong maka kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya, maka akan merekonstruksi pula adanya aktivitas manusia masa lampau serta peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs demikian kata Trihatmaji, namun kegiatan itu harus dilakukan dengan metode yang benar jika tidak maka akan sulit mengungkap misteri yang ada. Pada mulanya di lokasi penambangan tersebut ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan, namun terakhir ditemukan pula bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air. Adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air. Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki budaya dan seni arsitektur yang cukup baik di zamannya.
Sumber Artikel : http://sclm17.blogspot.com/2018/01/candi-pringapus.html?m=1
Sejarah, Cerita, Legenda, Mitos, TOKOH, Situs
Rute munju candi pringapus
Embung kledung merupakan sebuah bak penampungan air hujan. Bak tersebut di fungsikan sebagai cadangan air untuk perkebunan di sekitar embung.
Seiring dengan berjalanya waktu, kini embung kledung dimanfaat menjadi tempat wisata terbaru di temanggung.
Ditempat ini anda akan menikmati embung dengan latar gunung sindoro dan sumbing yang indah. Ditambah lagi dengan adanya perkebunanan milik penduduk di sekitar area wisata tersebut akan membuat anda betah berlama-lama.
Jalan Menuju Embung Kledung Temanggung
Jika anda dari magelang, ambilah jalur magelang wonosobo via secang. Ikuti jalur tersebut hingga sampai ke perbatasan kledung perbatasan wonosobo – temanggung.
Di perbatasan tersebut terdapat pom bensin, setelah pom bensin terdapat kuburan. Sebelum kuburan terdapat jalan setapak, di kanan jalan.
jalan setapak tersebut merupakan jalan menuju embung kledung. Kondisi jalanya masih bebatuan, sehingga anda harus sedikit berhati-hati ketika melewatinya.
jarak dari gang masuk hingga lokasi embung kledung sekitar 500 meter.
Untuk rute embung kledung dari wonosobo pun tidak berbeda. Pertama anda ambil jalur wonosobo temanggung via kretek.
Sesampainya di perbatasan temanggung wonsobo setelah gapura terdapat kaburuan di kiri jalan. Masuk ke jalan setapak setelah kuburan dan ikuti hingga sampai ke embung kledung.
Harga Tiket Masuk Embung Kledung Temanggung
Untuk harga tiket masuk embung keldung pada saat itu adalah 2000 rupiah per orang. Ditambah biaya parkir 2000 rupiah untuk kendaraan roda dua.
Lokasi :Wonosobo, Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Sumber:https://mytrip123.com/embung-kledung-temanggung/
Rute dari bandara Adisucipto menju embung Kledung
Rute dari bandara Adisucipto menju embung Kledung
3.Curung Titang
Curug Titang Temanggung - curug titang masih satu aliran dengan sungai Lungge yang bisa Anda gunakan untuk beranang. disamping memiliki air sungai yang jernih juga memiliki area kolam yang cukup luas.
Selain itu curug titang sering digunakan sebagai area rafting bagi para pecinta alam. Berbeda pendapat dengan curug di temanggung lainya, curug ini sudah banyak di kenal oleh wisatawan dan sering ramai kompilasi liburan telah tiba.
Di daerah ini juga sering di adakan ritual keagamaan masyarakat muslim sebelum bulan puasa dan hari raya idul fitri atau idul adha. ritual tersebut disebut padusan sedangkan umat muslim berbondong mandi di sungai ini untuk menyambut datangnya bulan suci romadhon atau hari raya.
Lokasi Curug Titang
Untuk lokasi curug titang sendirletak di Dusun Durenan Desa Temabarak Kecamatan Temabarak Kabupaten Temanggung.
Akses / Jalan Mneuju Curug Titang
Curug Titang ini berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat kota dan dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 15 menit.
Sumber:https://mytrip123.com/curug-tritang-temanggung/
Rute dari bandara Adisucipto menuju Curug Titang
4.Curug Surodipo
Rute dari bandara Adisucipto menuju Curug Titang
4.Curug Surodipo
Menghabiskan waktu bersantai di tempat yang memiliki kesan alami dan menyejukan bisa menjadi obat pelipur hati dan pikiran yang ampuh. Tempat yang satu ini cocok untuk para pencari kedamaian alam. Tempat itu bernama Curug Trocoh atau yang disebut juga dengan nama lain Curug Surodipuro. Air terjun ini merupakan satu di antara tempat eksotis yang ada di Temanggung. Curug ini terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Nama Curug Trocoh sendiri memiliki arti selalu mengeluarkan udara yang termasuk istilah dalam bahasa Jawa. Nama itu sesuai karena memang air terjun ini tak henti-hentinya mengalirkan udara, termasuk kompilasi musim kemarau panjang melanda tempat ini tak pernah surut airnya. Sementara nama lain Curug Surodipuro berasal dari nama salah satu panglima Perang Diponegoro, yaitu Kyai Surodipuro. Namun demikian, tidak ada yang membuktikan sejarah tentang Curug tersebut, akan tetapi menurut warga sekitar Makam Kyai Surodipuro di kawasan tersebut. Selain itu, tempat wisata yang menawan ini pernah menjadi tempat bersejarah. Tempat ini pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro sebagai salah satu tempat bagi perjuangan melawan Belanda dalam perang gerilya yang berlangsung tahun 1925-1930 itu.
Ketika perang telah usai sekitar tahun 1930, Kyai Surodipuro dikejar oleh Belanda dan berjuang sendiri ke arah utara. Kemudian dia menetap di kawasan ini dan dengan berat hati tidak kembali lagi ke Yogyakarta yang saat ini sudah jatuh ke tangan penjajah. Kyai Surodipuro bersama-sama menyetujui pengutusan menetap sampai kemudian mengumpulkan permukiman yang bernama Klesem. Hingga akhir hayatnya dia wafat dan dimakamkan di kawasan itu.Apabila disetujui dari pusat Kota Temanggung, Curug Trocoh berada di arah timur laut dan berjarak 38 kilometer. Tidak mudah untuk air terjun ini. Akses jalan yang cukup sulit menjadi salah satu penyebabnya. Dari Kota Kecamatan Wonoboyo menempuh perjalanan menuju Desa Tawangsari sejauh 7 kilometer dengan kondisi jalan yang berbatu. Tak hanya itu, untuk bisa sampai di curug ini mesti menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer lagi melewati jalan setapak serta menyusuri bukit. Kondisi jalan dan rekreasi yang cukup memudahkan para turis yang membawa kendaraan harus menitipkannya kepada warga lokal. Perjalanan melewati jalan yang berbukit dan lingkungan sekitar menjadi nilai tambah bagi para wisatawan yang memiliki jiwa petualang. Namun, segala kesulitan dan keletihan paska perjalanan akan terbayar kompilasi hingga di lokasi air terjun.
Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 120 meter dari puncak sampai ke dasarnya. Di sekitar lokasi ari terjun ini dibuat oleh tebing bebatuan bentuk setengah lingkaran. Dengan lingkungan yang juga ditumbuhi berbagai tumbuhan yang tumbuh di tepian bebatuan menambah keindahannya yang alami. Keunikan lainnya juga berjarak 5 meter dari satu dengan yang lainnya. Airnya yang jernih dan segar semakin menambah keistimewaan tempat ini. Curug Trocoh tidak hanya menawarkan keindahan alam sekitarnya, pengunjung juga bisa menghilangkan kepenatan dan menjadikannya tempat untuk bersantai serta berelaksasi. Selain dijadikan tempat bersantai oleh para wisatawan, lokasi ini juga digunakan oleh para pengunjung yang sengaja datang untuk bermeditasi. Mereka sering bermeditasi di gua-gua sekitar Watu Godheg yang jauh dari air terjun. Keindahan, Legenda, dan Keistimewaan lainnya Membuat lokasi ini sebagai tujuan Wisata yang sayang untuk dilewatkan.
Lokasi: Desa Tawangsari, Kecamatan wonoboyo.
Sumber:http://wisata.temanggungkab.go.id/2019/03/04/wisata-curug/
Rute dari bandara Adisucipto menju Curug Surodipo
Rute dari bandara Adisucipto menju Curug Surodipo
5.Candi Pringapus
Candi Pringapus adalah candi di desa Pringapus, Ngadirejo, Temanggung 22 Km arah barat laut ibu kota kabupaten Temanggung. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi Pringapus dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932. Candi ini merupakan replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan antefiks dan relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus merupakan candi yang menggunakan tataletak Jawa Tengah. Pola yang terlihat adalah adanya candi induk yang dihadap oleh candi perwara. Dalam hal Candi Pringapus ini, candi yang telah direkonstruksi (menghadap ke timur) adalah candi perwara, yang di dalamnya terdapat arca nandi. Sementara itu, di sekitaar candi terdapat banyak batu bagian dari bangunan-bangunan lain di kompleks candi ini. Candi Pringapus bersifat Hindu sekte Siwaistis. Hal ini terlihat dari adanya arca-arca bersifat Hindu yang erat kaitannya dengan Dewa Siwa. Pada bagian lain terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Durga merupakan salah satu perwujudan Uma sebagai dewi cantik dengan berbagai macam senjata anugerah dewa. Sebagai Durga, Uma menurut legenda berhasil mengalahkan raksasa sakti berwujud kerbau yang mengganggu para Brahmana. Di kompleks ini juga terdapat yoni yaitu salah satu perwujudan Uma (istri Siwa) yang berfungsi sebagai alas arca Siwa atau perwujudannya (biasanya berupa lingga). Persatuan lingga dan yoni merupakan simbol penciptaan alam semesta sekaligus simbol kesuburan. Sebagai saksi kebesaran sejarah masa silam, hal lain yang menarik dari Candi Pringapus adalah hiasaN Kala berdagu seperti umumnya Kala tipe Jawa Timur. Candi Pringapus pernah dipugar oleh Dinas Purbakala pada tahun 1930. Candi ini dibangun dengan bahan dari batu andesit dengan luas area sekitar 29,68m2. Candi Pringapus dihubungkan dengan Prasasti Argapura yang berangka tahun 852 M. Angka tahun yang tertera fondasi candi dan diduga sebagai tahun terselesaikannya pembangunan candi adalah tahun 772 Saka ( = 850 M). Menilik angka tahunnya, kemungkinan candi ini dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Pintu candi dihiasi dengan kalamakara di atas ambangnya. Tangga yang dibuat untuk mencapai pintu dibuat tanpa pipi tangga. Atap candi berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil, mirip dengan atap Candi Kidal di Jawa Timur. Keindahan Candi Priangapus terletak pada ornamen pahatan yang sangat halus dan indah yang menunjukkan bahwa arsiteknya memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bidang-bidang kosong diisi dengan pahatan bunga teratai dan sulur-suluran. Dinding di kanan kiri pintu dihiasi panil pahatan sepasang dewa-dewi dengan hiasan daun-daun yang distilir di atasanya. Dalam candi tersebut terdapat arca lembu dalam posisi duduk. Di sebelah barat bangunan candi, di tepi 'sendang' (danau kecil) terdapat sebuah lingga dan arca sapi. Konon, arca sapi ini merupakan penjaga ketersediaan air sendang, karena salah satu keunikan sendang tersebut adalah airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau berkepanjangan. CANDI LIYANGAN Candi Liyangan adalah situs purbakala berupa candi dan kawasan permukiman di lereng timur Gunung SIndoro, tepatnya di permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs ini baru ditemukan pada tahun 2008. Penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang. Penelitian dan penggalian lebih lanjut dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2010 dan 2011 menyimpulkan bahwa situs tersebut bukan merupakan candi besar tetapi sebuah perdusunan Mataram Kuno. Berdasar gambaran hasil survei penjajakan Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks; indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, sekaligus situs pertanian. Pada libur, candi ini banyak dikunjungi anak sekolah, turis domestik dan juga mancanegara seperti Amerika, Belanda, dan Belgia. Saat berkunjung ke situs liyangan di Ngadirejo Temanggung yang sedang dieskavasi Balar yogya, Tim Geologi (tim terpadu riset mandiri) sempat mengambil sample untuk kepentingan carbon dating. Sample itu dikirim bersamaan dengan sample beberapa lapisan di gunung padang ke Laboratorium Miami Florida. Hasilnya Umur batang pohon yang terbakar saat ditemukan tim di Situs Liangan usianya 690 Masehi. Jauh lebih muda dari lapisan yang pernah di carbon dating oleh Balar yogya sekitar tahun 975 M. Mungkin saja masih bisa ditemukan di lapisan bawahnya yang berumur lebih tua lagi, yang artinya ada bangunan situs lain yang lebih tua dari Borobudur. Kita tunggu perkembangan dari eskavasi Balar yogya. Berikut tentang situs liyangan Dari beberapa situs seperti Liyangan (Temanggung), Batu Jaya (Karawang), Trowulan (Mojokerto), dll yang ditemukan dalam keadaan terkubur, makin meyakinkan kita bahwa banyaK pengetahuan kebencanaan dan peradaban kita yang tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga mengikis keinginan kita untuk mengetahuinya. Artefak bukan semata art dan komoditi pariwisata; Lebih dari itu kita bicara visi bangsa ke Depan. Tim Katastropik purba telah lakukan pra-survey ke situs liyangan. Ada yang menarik: di situs yang sdh di eskavasi sebagian itu, di dinding yang paling atas bangunan ternyata mirip bangunan romawi. Kelihatannya kalibrasi geolistrik, georadar dengan hasil situs liyangan temanggung bisa menjadi opsi. Ada hal yang sangat mendasar di situs liyangan: Materialnya berbeda bukan batu bata seperti batu jaya dan trowulan, mirip benteng Romawi. Tahun 2008 , tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari Kecamatan Ngadirejo ditemukan situs Liyangan ini. Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro Yang cukup spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman. Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno. Secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut adalah situs permukiman, situs ritual, dan situs pertanian.Kompleksitas karakter tersebut membawa pada pemikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas perdusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa mengingat temuan ini satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah masa Mataram Kuno. Luasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno. Mengingat sebagian situs terkubur lahar, masih sangat dimungkinkan luasan situs lebih dari hasil survei. Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu. Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah. Sebagai upaya penelitian lebih lanjut terhadap situs di kawasan penambangan pasir tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah akan melakukan penggalian situs. Kepala BP3 Jawa Tengah Trihatmaji mengatakan, tim BP3 akan melakukan penggalian situs pada awal bulan Mei 2010 sebagai upaya penyelamatan benda bersejarah tersebut. Dengan adanya penggalian tersebut maka setelah tanah terpotong maka kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya, maka akan merekonstruksi pula adanya aktivitas manusia masa lampau serta peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs demikian kata Trihatmaji, namun kegiatan itu harus dilakukan dengan metode yang benar jika tidak maka akan sulit mengungkap misteri yang ada. Pada mulanya di lokasi penambangan tersebut ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan, namun terakhir ditemukan pula bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air. Adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air. Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki budaya dan seni arsitektur yang cukup baik di zamannya.
Sumber Artikel : http://sclm17.blogspot.com/2018/01/candi-pringapus.html?m=1
Sejarah, Cerita, Legenda, Mitos, TOKOH, Situs
Rute munju candi pringapus









