WISATA ALAM DI KOTA TEMANGGUNG
Temanggung merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang juga menjadi penghasilan tembakau terbesar di Indonesia.Saat berada di kota temanggung kita harus keliling ke tempat wisata yang ada di Kota Temanggung, ternyata Kota Temanggung selain memiliki hasil perkebunan tersebut temanggung juga memiliki tempat wisata yang begitu indah.Berikut ini daftar tempat wisata di Temanggung yang populer dan bisa di kunjungi:
1.Embung Kledung
Salah satu wisata terbaru di temanggung yang patut anda kunjungi adalah embung kledung. Wisata alam embung kledung ini mempunyai panorama alam yang luar biasa indahnya.
https://maps.app.goo.gl/BVpuAp3JP1eVF9Zw5
Candi Pringapus adalah candi di desa Pringapus, Ngadirejo, Temanggung 22 Km arah barat laut ibu kota kabupaten Temanggung. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi Pringapus dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932. Candi ini merupakan replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan antefiks dan relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus merupakan candi yang menggunakan tataletak Jawa Tengah. Pola yang terlihat adalah adanya candi induk yang dihadap oleh candi perwara. Dalam hal Candi Pringapus ini, candi yang telah direkonstruksi (menghadap ke timur) adalah candi perwara, yang di dalamnya terdapat arca nandi. Sementara itu, di sekitaar candi terdapat banyak batu bagian dari bangunan-bangunan lain di kompleks candi ini. Candi Pringapus bersifat Hindu sekte Siwaistis. Hal ini terlihat dari adanya arca-arca bersifat Hindu yang erat kaitannya dengan Dewa Siwa. Pada bagian lain terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Durga merupakan salah satu perwujudan Uma sebagai dewi cantik dengan berbagai macam senjata anugerah dewa. Sebagai Durga, Uma menurut legenda berhasil mengalahkan raksasa sakti berwujud kerbau yang mengganggu para Brahmana. Di kompleks ini juga terdapat yoni yaitu salah satu perwujudan Uma (istri Siwa) yang berfungsi sebagai alas arca Siwa atau perwujudannya (biasanya berupa lingga). Persatuan lingga dan yoni merupakan simbol penciptaan alam semesta sekaligus simbol kesuburan. Sebagai saksi kebesaran sejarah masa silam, hal lain yang menarik dari Candi Pringapus adalah hiasaN Kala berdagu seperti umumnya Kala tipe Jawa Timur. Candi Pringapus pernah dipugar oleh Dinas Purbakala pada tahun 1930. Candi ini dibangun dengan bahan dari batu andesit dengan luas area sekitar 29,68m2. Candi Pringapus dihubungkan dengan Prasasti Argapura yang berangka tahun 852 M. Angka tahun yang tertera fondasi candi dan diduga sebagai tahun terselesaikannya pembangunan candi adalah tahun 772 Saka ( = 850 M). Menilik angka tahunnya, kemungkinan candi ini dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Pintu candi dihiasi dengan kalamakara di atas ambangnya. Tangga yang dibuat untuk mencapai pintu dibuat tanpa pipi tangga. Atap candi berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil, mirip dengan atap Candi Kidal di Jawa Timur. Keindahan Candi Priangapus terletak pada ornamen pahatan yang sangat halus dan indah yang menunjukkan bahwa arsiteknya memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bidang-bidang kosong diisi dengan pahatan bunga teratai dan sulur-suluran. Dinding di kanan kiri pintu dihiasi panil pahatan sepasang dewa-dewi dengan hiasan daun-daun yang distilir di atasanya. Dalam candi tersebut terdapat arca lembu dalam posisi duduk. Di sebelah barat bangunan candi, di tepi 'sendang' (danau kecil) terdapat sebuah lingga dan arca sapi. Konon, arca sapi ini merupakan penjaga ketersediaan air sendang, karena salah satu keunikan sendang tersebut adalah airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau berkepanjangan. CANDI LIYANGAN Candi Liyangan adalah situs purbakala berupa candi dan kawasan permukiman di lereng timur Gunung SIndoro, tepatnya di permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs ini baru ditemukan pada tahun 2008. Penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang. Penelitian dan penggalian lebih lanjut dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2010 dan 2011 menyimpulkan bahwa situs tersebut bukan merupakan candi besar tetapi sebuah perdusunan Mataram Kuno. Berdasar gambaran hasil survei penjajakan Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks; indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, sekaligus situs pertanian. Pada libur, candi ini banyak dikunjungi anak sekolah, turis domestik dan juga mancanegara seperti Amerika, Belanda, dan Belgia. Saat berkunjung ke situs liyangan di Ngadirejo Temanggung yang sedang dieskavasi Balar yogya, Tim Geologi (tim terpadu riset mandiri) sempat mengambil sample untuk kepentingan carbon dating. Sample itu dikirim bersamaan dengan sample beberapa lapisan di gunung padang ke Laboratorium Miami Florida. Hasilnya Umur batang pohon yang terbakar saat ditemukan tim di Situs Liangan usianya 690 Masehi. Jauh lebih muda dari lapisan yang pernah di carbon dating oleh Balar yogya sekitar tahun 975 M. Mungkin saja masih bisa ditemukan di lapisan bawahnya yang berumur lebih tua lagi, yang artinya ada bangunan situs lain yang lebih tua dari Borobudur. Kita tunggu perkembangan dari eskavasi Balar yogya. Berikut tentang situs liyangan Dari beberapa situs seperti Liyangan (Temanggung), Batu Jaya (Karawang), Trowulan (Mojokerto), dll yang ditemukan dalam keadaan terkubur, makin meyakinkan kita bahwa banyaK pengetahuan kebencanaan dan peradaban kita yang tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga mengikis keinginan kita untuk mengetahuinya. Artefak bukan semata art dan komoditi pariwisata; Lebih dari itu kita bicara visi bangsa ke Depan. Tim Katastropik purba telah lakukan pra-survey ke situs liyangan. Ada yang menarik: di situs yang sdh di eskavasi sebagian itu, di dinding yang paling atas bangunan ternyata mirip bangunan romawi. Kelihatannya kalibrasi geolistrik, georadar dengan hasil situs liyangan temanggung bisa menjadi opsi. Ada hal yang sangat mendasar di situs liyangan: Materialnya berbeda bukan batu bata seperti batu jaya dan trowulan, mirip benteng Romawi. Tahun 2008 , tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari Kecamatan Ngadirejo ditemukan situs Liyangan ini. Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro Yang cukup spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman. Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno. Secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut adalah situs permukiman, situs ritual, dan situs pertanian.Kompleksitas karakter tersebut membawa pada pemikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas perdusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa mengingat temuan ini satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah masa Mataram Kuno. Luasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno. Mengingat sebagian situs terkubur lahar, masih sangat dimungkinkan luasan situs lebih dari hasil survei. Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu. Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah. Sebagai upaya penelitian lebih lanjut terhadap situs di kawasan penambangan pasir tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah akan melakukan penggalian situs. Kepala BP3 Jawa Tengah Trihatmaji mengatakan, tim BP3 akan melakukan penggalian situs pada awal bulan Mei 2010 sebagai upaya penyelamatan benda bersejarah tersebut. Dengan adanya penggalian tersebut maka setelah tanah terpotong maka kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya, maka akan merekonstruksi pula adanya aktivitas manusia masa lampau serta peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs demikian kata Trihatmaji, namun kegiatan itu harus dilakukan dengan metode yang benar jika tidak maka akan sulit mengungkap misteri yang ada. Pada mulanya di lokasi penambangan tersebut ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan, namun terakhir ditemukan pula bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air. Adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air. Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki budaya dan seni arsitektur yang cukup baik di zamannya.
https://maps.app.goo.gl/R5W4uMWQEpmgcZ1x9
Tari Wulangatho (https://jateng.merdeka.com)
Rute menuju pasar Jumat Pahing:
https://maps.app.goo.gl/b3bX2vaZK1d3GM96A
Nama :Sinta Mayasari
Kelas :Xl RPL
Alamat :Jlamprang,Menggoro,Tembarak
Embung kledung merupakan sebuah bak penampungan air hujan. Bak tersebut di fungsikan sebagai cadangan air untuk perkebunan di sekitar embung.
Seiring dengan berjalanya waktu, kini embung kledung dimanfaat menjadi tempat wisata terbaru di temanggung.
Ditempat ini anda akan menikmati embung dengan latar gunung sindoro dan sumbing yang indah. Ditambah lagi dengan adanya perkebunanan milik penduduk di sekitar area wisata tersebut akan membuat anda betah berlama-lama.
Harga Tiket Masuk Embung Kledung Temanggung
Untuk harga tiket masuk embung keldung pada saat itu adalah 2000 rupiah per orang. Ditambah biaya parkir 2000 rupiah untuk kendaraan roda dua.
Lokasi :Wonosobo, Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Sumber:https://mytrip123.com/embung-kledung-temanggung/
Rute menuju embung Kledung:
2.Candi Pringapus
Candi Pringapus adalah candi di desa Pringapus, Ngadirejo, Temanggung 22 Km arah barat laut ibu kota kabupaten Temanggung. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi Pringapus dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932. Candi ini merupakan replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan antefiks dan relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus merupakan candi yang menggunakan tataletak Jawa Tengah. Pola yang terlihat adalah adanya candi induk yang dihadap oleh candi perwara. Dalam hal Candi Pringapus ini, candi yang telah direkonstruksi (menghadap ke timur) adalah candi perwara, yang di dalamnya terdapat arca nandi. Sementara itu, di sekitaar candi terdapat banyak batu bagian dari bangunan-bangunan lain di kompleks candi ini. Candi Pringapus bersifat Hindu sekte Siwaistis. Hal ini terlihat dari adanya arca-arca bersifat Hindu yang erat kaitannya dengan Dewa Siwa. Pada bagian lain terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Durga merupakan salah satu perwujudan Uma sebagai dewi cantik dengan berbagai macam senjata anugerah dewa. Sebagai Durga, Uma menurut legenda berhasil mengalahkan raksasa sakti berwujud kerbau yang mengganggu para Brahmana. Di kompleks ini juga terdapat yoni yaitu salah satu perwujudan Uma (istri Siwa) yang berfungsi sebagai alas arca Siwa atau perwujudannya (biasanya berupa lingga). Persatuan lingga dan yoni merupakan simbol penciptaan alam semesta sekaligus simbol kesuburan. Sebagai saksi kebesaran sejarah masa silam, hal lain yang menarik dari Candi Pringapus adalah hiasaN Kala berdagu seperti umumnya Kala tipe Jawa Timur. Candi Pringapus pernah dipugar oleh Dinas Purbakala pada tahun 1930. Candi ini dibangun dengan bahan dari batu andesit dengan luas area sekitar 29,68m2. Candi Pringapus dihubungkan dengan Prasasti Argapura yang berangka tahun 852 M. Angka tahun yang tertera fondasi candi dan diduga sebagai tahun terselesaikannya pembangunan candi adalah tahun 772 Saka ( = 850 M). Menilik angka tahunnya, kemungkinan candi ini dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Pintu candi dihiasi dengan kalamakara di atas ambangnya. Tangga yang dibuat untuk mencapai pintu dibuat tanpa pipi tangga. Atap candi berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil, mirip dengan atap Candi Kidal di Jawa Timur. Keindahan Candi Priangapus terletak pada ornamen pahatan yang sangat halus dan indah yang menunjukkan bahwa arsiteknya memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bidang-bidang kosong diisi dengan pahatan bunga teratai dan sulur-suluran. Dinding di kanan kiri pintu dihiasi panil pahatan sepasang dewa-dewi dengan hiasan daun-daun yang distilir di atasanya. Dalam candi tersebut terdapat arca lembu dalam posisi duduk. Di sebelah barat bangunan candi, di tepi 'sendang' (danau kecil) terdapat sebuah lingga dan arca sapi. Konon, arca sapi ini merupakan penjaga ketersediaan air sendang, karena salah satu keunikan sendang tersebut adalah airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau berkepanjangan. CANDI LIYANGAN Candi Liyangan adalah situs purbakala berupa candi dan kawasan permukiman di lereng timur Gunung SIndoro, tepatnya di permukiman warga Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, berjarak sekitar 20 kilometer arah barat laut dari kota Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Situs ini baru ditemukan pada tahun 2008. Penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang. Penelitian dan penggalian lebih lanjut dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2010 dan 2011 menyimpulkan bahwa situs tersebut bukan merupakan candi besar tetapi sebuah perdusunan Mataram Kuno. Berdasar gambaran hasil survei penjajakan Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks; indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, sekaligus situs pertanian. Pada libur, candi ini banyak dikunjungi anak sekolah, turis domestik dan juga mancanegara seperti Amerika, Belanda, dan Belgia. Saat berkunjung ke situs liyangan di Ngadirejo Temanggung yang sedang dieskavasi Balar yogya, Tim Geologi (tim terpadu riset mandiri) sempat mengambil sample untuk kepentingan carbon dating. Sample itu dikirim bersamaan dengan sample beberapa lapisan di gunung padang ke Laboratorium Miami Florida. Hasilnya Umur batang pohon yang terbakar saat ditemukan tim di Situs Liangan usianya 690 Masehi. Jauh lebih muda dari lapisan yang pernah di carbon dating oleh Balar yogya sekitar tahun 975 M. Mungkin saja masih bisa ditemukan di lapisan bawahnya yang berumur lebih tua lagi, yang artinya ada bangunan situs lain yang lebih tua dari Borobudur. Kita tunggu perkembangan dari eskavasi Balar yogya. Berikut tentang situs liyangan Dari beberapa situs seperti Liyangan (Temanggung), Batu Jaya (Karawang), Trowulan (Mojokerto), dll yang ditemukan dalam keadaan terkubur, makin meyakinkan kita bahwa banyaK pengetahuan kebencanaan dan peradaban kita yang tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga mengikis keinginan kita untuk mengetahuinya. Artefak bukan semata art dan komoditi pariwisata; Lebih dari itu kita bicara visi bangsa ke Depan. Tim Katastropik purba telah lakukan pra-survey ke situs liyangan. Ada yang menarik: di situs yang sdh di eskavasi sebagian itu, di dinding yang paling atas bangunan ternyata mirip bangunan romawi. Kelihatannya kalibrasi geolistrik, georadar dengan hasil situs liyangan temanggung bisa menjadi opsi. Ada hal yang sangat mendasar di situs liyangan: Materialnya berbeda bukan batu bata seperti batu jaya dan trowulan, mirip benteng Romawi. Tahun 2008 , tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbasari Kecamatan Ngadirejo ditemukan situs Liyangan ini. Situs Liyangan berupa candi ukuran kecil, dan hingga kini di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro Yang cukup spektakuler adalah temuan terakhir pada akhir Maret 2010 berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya, menurut perkiraan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman. Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Untuk mengungkap keberadaan situs tersebut pada 14-20 April 2009 tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian terhadap benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar tujuh hingga 10 meter, berdasarkan hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian menyimpulkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah permukiman pada zaman Mataram Kuno. Secara umum, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut adalah situs permukiman, situs ritual, dan situs pertanian.Kompleksitas karakter tersebut membawa pada pemikiran bahwa situs Liyangan adalah bekas perdusunan yang pernah berkembang pada masa Mataram Kuno. Ragam data dan karakter ini tergolong istimewa mengingat temuan ini satu-satunya situs yang mengandung data arkeologi berupa sisa rumah masa Mataram Kuno. Luasan imajiner situs Liyangan berdasarkan survei diperkirakan tidak kurang dari dua hektare. Di area tersebut tersebar data arkeologi yang menunjukkan sebagai situs perdusunan masa Mataram Kuno. Mengingat sebagian situs terkubur lahar, masih sangat dimungkinkan luasan situs lebih dari hasil survei. Hasil penelitian tim Balai Arkeologi menyimpulkan bahwa data arkeologi berupa sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu merupakan situs perdusunan masa Mataram Kuno sekitar 1.000 tahun lalu. Data tersebut merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional, oleh sebab itu perlu dilakukan upaya penyelamatan guna penelitian dunia ilmiah. Sebagai upaya penelitian lebih lanjut terhadap situs di kawasan penambangan pasir tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah akan melakukan penggalian situs. Kepala BP3 Jawa Tengah Trihatmaji mengatakan, tim BP3 akan melakukan penggalian situs pada awal bulan Mei 2010 sebagai upaya penyelamatan benda bersejarah tersebut. Dengan adanya penggalian tersebut maka setelah tanah terpotong maka kelihatan secara konstruksi dan diketahui tanah lapisan budaya, maka akan merekonstruksi pula adanya aktivitas manusia masa lampau serta peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada kawasan situs demikian kata Trihatmaji, namun kegiatan itu harus dilakukan dengan metode yang benar jika tidak maka akan sulit mengungkap misteri yang ada. Pada mulanya di lokasi penambangan tersebut ditemukan situs yang diduga tempat pemujaan, namun terakhir ditemukan pula bekas bangunan dari kayu dan bambu yang telah menjadi arang dan di bawahnya terdapat talud dari batu putih setinggi 2,5 meter dan terdapat saluran air. Adanya temuan bangunan saluran air tersebut menandakan bahwa waktu itu sudah ada manajemen air. Melihat konstruksi kayu dengan garapan yang halus dan menggunakan atap dari ijuk menandakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki budaya dan seni arsitektur yang cukup baik di zamannya.
Rute menuju candi pringapus:
BUDAYA DI KOTA TEMANGGUNG
1.Tarian Topeng IrengMerupak
tarian rakyat kreasi baru yang merupakan metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo, tarian ini mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi, Merbabu dan Sumbing pada tahun 1960-an, disebut juga sebagai Tari Dayakan.

Tari Topeng Ireng (https://desakaloran-temanggung.blogspot.co.id)
Tari Topeng Ireng mengisahkan tentang perjuangan seorang pertapa untuk membuka lahan hutan untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman, dimana dihutan tersebut terdapat manusia rimba. Seorang pertapa tersebut melawan para manusia rimba dan mengajari mereka untuk hidup sebagai manusia biasa, mengajak mereka membuka hutan, membuka lahan pertanian, dan mengajari seni bela diri
2.Tari Wulangatho
2.Tari Wulangatho
Tari Wulangatho (https://jateng.merdeka.com)
Tari ini memiliki arti mengajarkan kebaikan terhadap anak melalui seni tari yang menggembirakan karena membawa kejenakaan.
Meski memiliki kesan jenaka bagi penikmatnya, namun tari tradisonal yang satu ini juga sarat akan nilai penting lain. Yakni mengusung nafas agama Islam nan religius tanpa meninggalkan pesan nasionalisme.
KULINER DI KOTA TEMANGGUNG
1.Pasar Papringan
Temanggung - Temanggung punya pasar yang unik. Kenapa, karena lokasinya ada di bawah pohon bambu yang rimbun.
Namanya Pasar Papringan Ngadipronodan hanya buka di tiap Minggu Wage dan Pon. Sekalipun hanya pada hari tersebut, namun pengunjung yang datang jumlahnya banyak dan datang dari berbagai daerah.
Suasana pasar ini masih asri dan alami. Kondisi seperti ini hanya bisa ditemui di Pasar Papringan, tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Sesuai namanya Pasar Papringan ini berada di bawah kerimbunan pohon bambu.
Namanya Pasar Papringan Ngadipronodan hanya buka di tiap Minggu Wage dan Pon. Sekalipun hanya pada hari tersebut, namun pengunjung yang datang jumlahnya banyak dan datang dari berbagai daerah.
Suasana pasar ini masih asri dan alami. Kondisi seperti ini hanya bisa ditemui di Pasar Papringan, tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Sesuai namanya Pasar Papringan ini berada di bawah kerimbunan pohon bambu.
Jika Anda ingin datang ke lokasi ini, baru sampai di lokasi parkiran terlihat mobil-mobil parkir berjajar dari luar kota yang datang. Demikian halnya dengan lokasi parkiran sepeda motor begitu ramai dan parkir di mulut-mulut gang dusun setempat.
Traveler yang ingin ke Pasar Papringan, berkendaralah dari Kota Temanggung menuju Kecamatan Kedu. Setelah sampai Pasar Kedu belok kanan menyusuri jalan tersebut hingga sampai lokasi karena sudah dipasang papan penunjuk arah.
Traveler yang ingin ke Pasar Papringan, berkendaralah dari Kota Temanggung menuju Kecamatan Kedu. Setelah sampai Pasar Kedu belok kanan menyusuri jalan tersebut hingga sampai lokasi karena sudah dipasang papan penunjuk arah.
Foto: Eko Susanto |
Dari lokasi parkiran Anda harus berjalan melewati perkampungan dan sampai di pintu masuk Pasar Papringan. Pengunjung yang datang di lokasi ini kali pertama harus menukarkan uang rupiah dengan uang keping dari bambu atau pring.
Para pengelola pasar ini akan melayani penukaran uang rupiah dengan uang keping bambu. Adapun satu uang keping nilainya sebesar Rp 2.000. Setelah menyodorkan uang rupiah, nantinya pengunjung akan mendapatkan uang keping pring yang bisa digunakan membeli di pasar yang buka mulai pukul 06.00-12.00 WIB.
Makanan yang dijual sangat beragam dan semuanya makanan tradisional. Makanan yang dijual di pasar ini antara lain, gethuk gulung, klenyem, bakwan jendal, puthu mayang, ketan bakar, persikan dan toklo. Kemudian ada pula gathot, tiwul, bandos, jenang koro, mendut, nagasari, sego abang, sego jagung, jenang dan lainnya.
Ada juga makanan jagung jali, apem pasung, kroket kentang, soto, bubur ayam dan lain-lainnya. Para pengunjung bisa langsung berinteraksi langsung dengan para penjual yang kebanyakan warga setempat. Keramahan orang pedesaan masih sangat kental di pasar ini.
Para pengelola pasar ini akan melayani penukaran uang rupiah dengan uang keping bambu. Adapun satu uang keping nilainya sebesar Rp 2.000. Setelah menyodorkan uang rupiah, nantinya pengunjung akan mendapatkan uang keping pring yang bisa digunakan membeli di pasar yang buka mulai pukul 06.00-12.00 WIB.
Makanan yang dijual sangat beragam dan semuanya makanan tradisional. Makanan yang dijual di pasar ini antara lain, gethuk gulung, klenyem, bakwan jendal, puthu mayang, ketan bakar, persikan dan toklo. Kemudian ada pula gathot, tiwul, bandos, jenang koro, mendut, nagasari, sego abang, sego jagung, jenang dan lainnya.
Ada juga makanan jagung jali, apem pasung, kroket kentang, soto, bubur ayam dan lain-lainnya. Para pengunjung bisa langsung berinteraksi langsung dengan para penjual yang kebanyakan warga setempat. Keramahan orang pedesaan masih sangat kental di pasar ini.
Rute menuju pasar Papringan:
https://goo.gl/maps/CyJA22G3PzXr2R3N8
2.Pasar Jumat Pahing
Kalender Jawa dikenal dengan adanya nama-nama pasar, orang Jawa biasa menyebutnya pasaran. Ada lima nama pasar yang terdapat pada kalender Jawa, yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Nama pasaran itu akan terus berurutan mengikuti hari dan tanggal di setiap bulannya.
Dalam satu bulan terdapat satu hari di mana hari itu adalah hari Kamis Legi atau malam Jum’at Pahing. Pasar Jum’at Pahing ini diselenggarakan setiap malam Jum’at Pahing, sehingga dinamakan pasar Jumat Pahing. Letak Pasar Jum’at Pahing ini ada di Desa Menggoro, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Pasar ini menjual macam-macam, mulai dari makanan, minuman, pakaian, mainan, dan masih banyak lagi. Salah satu makanan yang paling terkenal di pasar ini adalah Brongkos Kikil khas Menggoro. Banyak orang yang berdatangan untuk menikmati hidangan primadona ini di pasar Jum’at Pahing. Selain brongkos kikil khas Menggoro, banyak makanan tradisional yang dijual di pasar ini, yaitu onde-onde, kue cucur, kethek, aneka baceman dan banyak lainnya.
Selain itu, pasar Jum’at Pahing juga dikenal sebagai tradisi peninggalan Mbah Kyai Pahing, di mana beliau adalah juru kunci atau takmir masjid Menggoro. Awal berdirinya pasar Jum’at Pahing ini adalah karena pada setiap malam Jum’at, Mbah Kyai Pahing selalu mengadakan mujahadah di masjid Menggoro dan dipimpin oleh Kyai Adam Muhammad. Dari Jum’at ke Jum’at, jama’ahnya semakin banyak dan ramai, bahkan orang-orang dari luar desa bahkan luar kota banyak yang berdatangan ke masjid ini dan melakukan mujahadahbersama. Karena jumlah jama’ah semakin banyak, maka Nyi Pahing (istri Kyai Pahing) membuka lapak dan berjualan makanan serta minuman. Setelah Kyai Adam Muhammad meninggal, maka mujahadah yang biasanya diadakan setiap malam Jum’at, akhirnya diadakansebulan sekali yaitu di malam Jum’at Pahing. Hal ini dikarenakan kyai di Menggoro sibuk berdakwah dan sibuk dengal hal lainnya. Sejak saat itulah area masjid Menggoro semakin ramai oleh para pedagang, dan dikenal sebagai Pasar Jum’at Pahing.
Rute menuju pasar Jumat Pahing:
PROFIL PEMBUAT BLOG INI
Kelas :Xl RPL
Alamat :Jlamprang,Menggoro,Tembarak
















